Berjalan di atas air
Nama besar Ki Ageng Prawira Purba tidak terbatas di Kota Yogyakarta
bahkan sampai ke pelosok pedesaan. Selain karena kabar dari mulut-ke
mulut juga karena Ki Ageng Prawira Purba sendiri sering berjalan-jalan
menjelajah keluar masuk desa. Beliau banyak mengenal dan menjalin
persaudaraan dengan masyarakat desa. Tak jarang ditempat tinggal beliau
mendapat kiriman makanan dari salah satu penduduk desa yang beliau
kunjungi. Terkadang juga beliau mendapat undangan hajatan dari desa. Ki
Ageng Prawira Purba selalu mendatangi setiap undangan hajatan, dan
beliau mendatangi dengan cara beliau sendiri yang sukar diduga oleh
pemangku hajat. Biasanya tuan rumah yang sudah menyiapkan tempat khusus
untuk beliau sebagai tamu terhrmat, akan tetapi tidak pernah beliau mau
duduk ditempat yang disediakan tersebut. Juga jemputan seperti mobil
ataupun kereta juga tidak pernah beliau terima.
Kali Progo merupakan pertemuan beberapa sungai sehingga kali tersebut
cukup luas serta deras arusnya. Pada suatu hari Ki Ageng Prawira Purba
sekeluarga beserta Nyai Kasihan serta Surip pergi ke Kulon Progo
menghadiri undangan resepsi. Pada suatu bantar tempat penyeberangan
dengan menggunakan rakit tambang, ketika sampai di pinggir sungai maka
Nyai Kasihan beserta Surip menyeberang terlebih dahulu naik rakit. Pada
saat giliran Ki Ageng Prawira Purba naik kerakit, tiba-tiba disetop oleh
Ibu Nyai Kasihan dan katanya maaf ndoro, kalau memang ndoro seorang
sakti dan mumpuni tanpa rakit kiranya juga dapat menyeberang. Nyai
Kasihan pada dasarnya memiliki watak usil dan senang bercanda, sehingga
Ki Ageng Prawira Purba pun turut dikerjai. Jawaban Ki Ageng Prawira
Purba pun pada saat itu tidak banyak, beliau berkata “oh hiya,hiya,hiya,
kalau demikian kehendak Ibu Nyai Kasihan. Atas jawaban tersebut hati
Nyai menjadi tidak enak hati, maksud hati ingin bercanda akan tetapi
ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Ki Ageng Prawira Purba. Melihat
arus sungai Progo yang sedang deras, maka timbul kekhawatiran Nyai
Kasihan terhadap suaminya. Nyai Kasihan khawatir apabila memaksakan diri
berenang akan bias tenggelam ataupun terbawa arus yang cukup deras saat
itu.
Ki Ageng Prawira Purba terdiam sesaat,kain disingsingkan perlahan-lahan
kemudian kaki kanan mulai menapak di air, dan terlihatlah beliau
berjalan melenggang di atas sungai tampak seperti anak-anak yang sedang
berjalan berkecipak-cipak mirip diatas aspal yang berair. Rakit
menyeberang dengan cara mengikuti haluan arus, sehingga agak miring akan
tetapi Ki Ageng Prawira Purba menyeberang langsung memintas sehingga
tiba lebih dahulu sampai di seberang. Cerita tersebut dituturkan kembali
oleh Surip yang ikut bersama-sama menyeberangi menggunakan rakit.
repost kaskus TS "mdiwse"
No comments:
Post a Comment