Saturday, May 9, 2015

Kisah Ndoro Purba Cucu HB VI part 9

Berjalan di atas air

Nama besar Ki Ageng Prawira Purba tidak terbatas di Kota Yogyakarta bahkan sampai ke pelosok pedesaan. Selain karena kabar dari mulut-ke mulut juga karena Ki Ageng Prawira Purba sendiri sering berjalan-jalan menjelajah keluar masuk desa. Beliau banyak mengenal dan menjalin persaudaraan dengan masyarakat desa. Tak jarang ditempat tinggal beliau mendapat kiriman makanan dari salah satu penduduk desa yang beliau kunjungi. Terkadang juga beliau mendapat undangan hajatan dari desa. Ki Ageng Prawira Purba selalu mendatangi setiap undangan hajatan, dan beliau mendatangi dengan cara beliau sendiri yang sukar diduga oleh pemangku hajat. Biasanya tuan rumah yang sudah menyiapkan tempat khusus untuk beliau sebagai tamu terhrmat, akan tetapi tidak pernah beliau mau duduk ditempat yang disediakan tersebut. Juga jemputan seperti mobil ataupun kereta juga tidak pernah beliau terima.

Kali Progo merupakan pertemuan beberapa sungai sehingga kali tersebut cukup luas serta deras arusnya. Pada suatu hari Ki Ageng Prawira Purba sekeluarga beserta Nyai Kasihan serta Surip pergi ke Kulon Progo menghadiri undangan resepsi. Pada suatu bantar tempat penyeberangan dengan menggunakan rakit tambang, ketika sampai di pinggir sungai maka Nyai Kasihan beserta Surip menyeberang terlebih dahulu naik rakit. Pada saat giliran Ki Ageng Prawira Purba naik kerakit, tiba-tiba disetop oleh Ibu Nyai Kasihan dan katanya maaf ndoro, kalau memang ndoro seorang sakti dan mumpuni tanpa rakit kiranya juga dapat menyeberang. Nyai Kasihan pada dasarnya memiliki watak usil dan senang bercanda, sehingga Ki Ageng Prawira Purba pun turut dikerjai. Jawaban Ki Ageng Prawira Purba pun pada saat itu tidak banyak, beliau berkata “oh hiya,hiya,hiya, kalau demikian kehendak Ibu Nyai Kasihan. Atas jawaban tersebut hati Nyai menjadi tidak enak hati, maksud hati ingin bercanda akan tetapi ditanggapi dengan sungguh-sungguh oleh Ki Ageng Prawira Purba. Melihat arus sungai Progo yang sedang deras, maka timbul kekhawatiran Nyai Kasihan terhadap suaminya. Nyai Kasihan khawatir apabila memaksakan diri berenang akan bias tenggelam ataupun terbawa arus yang cukup deras saat itu.

Ki Ageng Prawira Purba terdiam sesaat,kain disingsingkan perlahan-lahan kemudian kaki kanan mulai menapak di air, dan terlihatlah beliau berjalan melenggang di atas sungai tampak seperti anak-anak yang sedang berjalan berkecipak-cipak mirip diatas aspal yang berair. Rakit menyeberang dengan cara mengikuti haluan arus, sehingga agak miring akan tetapi Ki Ageng Prawira Purba menyeberang langsung memintas sehingga tiba lebih dahulu sampai di seberang. Cerita tersebut dituturkan kembali oleh Surip yang ikut bersama-sama menyeberangi menggunakan rakit.


repost kaskus TS "mdiwse"  

No comments:

Post a Comment