Lari lari mengelilingi mobil berjalan
Tingkah laku Ki Ageng sukar diduga oleh siapa saja. Kalau sedang diam
nampak begitu angker berwibawa, dan kalau sudah seperti itu tidak akan
ada yang dapat membuatnya berbicara. Apabila harus berbicarapun maka
kata kata yang keluar adalah kata kata yang singkat tepat dan berwibawa.
Tetapi terkadang juga sikap beliau yang angker tersebut secara tiba
tiba dapat berubah menjadi lucu kekanak kanakan sehingga membuat orang
lain hilang rasa takutnya.
Pada suatu hari terlihat sebuah mobil melaju dari keraton menuju ke
utara, nampak mobil tersebut dikemudikan seorang pribumi dengan
mengenakan blangkon dan baju warna putih dan duduk di kursi belakang
seorang Belanda. Tiba tiba dari arah Kantor Pos terlihat seorang Gembel
berlari mengejar mobil tersebut, sekilas pemandangan terlihat lucu
(jaman dulu mobil masih jarang, dan terkadang anak anak berlarian
mengejar mobil karena jarang melihat). Akan tetapi anehnya mobil yang
melaju tersebut dapat dikejar oleh si gembel, bahkan sambil mobil
berjalan si gembel berlari mengikuti sambil mengelilingi mobil tersebut.
Hal ini membuat sopir menjadi bingung dalam mengendalikan mobil
sehingga terpontang panting dalam mengemudikannya. Kejadian tersebut
hanya berlangsung singkat, akan tetapi sopir yang masih kacau pikirannya
mengemudi dengan pontang panting sambil gugup hingga akhirnya mobil
tersebut baru bisa berhenti setelah menabrak sebuah rumah di depan
bioskop Indra (sekitar utara Mirota Batik depan Pasar Beringharjo).
Kecelakaan tersebut merenggut korban jiwa si orang Belanda, sedangkan si
sopir hanya luka ringan, adapun mobil rusak.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1920an, dan banyak yang
menafsirkan bahwa kejadian tersebut merupakan firasat atau perlambang
yaitu:
1. Mobil meninggalkan keraton dapat diartikan Belanda akan meninggalkan kekuasaan (keraton)
2. Alun alun melambangkan pusat segala kegiatan (artinya yang
ditinggalkan Belanda bukan cuma kekuasaan,tetapi juga meliputi semua
pengaruhnya)
3. Mobil dipermainkan seperti main kucing kucingan diartikan perang
gerilya yang seperti kucing kucingan akan terjadi melawan Belanda.
4. Mobil dilepas dan menabrak rumah menggambarkan kekalahan Belanda.
Rumah Ki Ageng Kebobolan Pencuri
Walau seorang arif bijaksana dapat tahu sesuatu yang akan terjadi, akan
tetapi sebagai manusia tetap tidak lepas dari garis takdir dan ketentuan
Tuhan. Semua itu untuk menunjukkan bahwa manusia sejatinya hanyalah
mahluk lemah yang tidak berkuasa atas apapun. Alkisah seorang laki laki
bernama Atmo, sering dipanggil Atmo rembes (e untuk edan) rembes berarti
mata yang kotor dan sering ada tahi mata. Atmo rembes tinggal di desa
Tegalgendu, dia sering mendapat kepercayaan untuk menunggu rumah Ki
Ageng di jl.Tukangan terkadang untuk beberapa hari.
Suatu hari Ki Ageng sekeluarga beserta Nyi Kasihan dan Surip hendak
pergi ke Demak menengok saudaranya yang menjadi istri Bupati Demak.
Selain kunjungan keluarga juga ada rencana ziarah ke makam Sunan
Kalijaga di Kadilangu.
Sebagai tanda kasih RAA Harya Hadiningrat yang isteri Bupati tersebut
memberi uang sebesar f 400,- kepada adiknya Raden Bekel Prawira Purba.
Sedang Nyi Kasihan mendapat hadiah beberapa lembar kain batik. Mereka
juga dihantarkan mengunjungi makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, dan
setelah kunjungan selesai maka sekeluarga kembali melanjutkan perjalanan
dengan naik KA ke Solo. Sepanjang perjalanan KA seperti biasa Ki Ageng
terdiam dengan mata terpejam seperti bermeditasi, adapun istri dan
anaknya asyik dengan kesibukan masing masing. Tiba tiba Ki Ageng
berbicara memecah kesibukan masing masing, beliau berkata"mangke arta
kula caosaken" (nanti uang saya serahkan). Setelah itu beliau kembali
terdiam dan masing masing kembali ke kesibukan masing masing. Sesampai
di stasiun Gundih, Ki Ageng mengeluarkan uang dan menyerahkan ke Nyi
Kasihan, dan Nyi Kasihan juga menerima dengan wajar. Sore hari mereka
sampai di Yogyakarta dan turun di Stasiun Lempuyangan, Ki Ageng berkata
"mangga kula atur kundur rumiyin" (silahkan pulang duluan) maka Surip
dan Nyi Kasihan pulang dengan naik andong.
Sesampai di rumah ternyata atmo yang disuruh menunggu rumah tidak
kelihatan batang hidungnya, dan seisi rumah terrkuras habis, rupanya
atmo telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Sebagai seorang
istri orang linuwih Nyai Kasihan menerima dengan tabah akan ujian ini.
Bahkan Nyi Kasihan beranggapan ini mungkin peringatan baginya agar tidak
terlalu memikirkan harta duniawi, walaupun sebenarnya bila Ki Ageng
ingin mencari harta dunia maka rumah tersebut tentu tidak akan muat
menampung harta yang dapat diperoleh. Akan tetapi justru Ki Ageng yang
sudah lepas dari duniawi tidak banyak menyimpan harta dirumah.
Menurut Nyai Kasihan sebenarnya Ki Ageng sudah sedikit menyinggung
dengan menyatakan akan menyerahkan semua uang yang didapat dari Demak,
akan tetapi Nyi Kasihan kurang tanggap akan hal tersebut. Ditambah
dengan keputusan Ki Ageng yang tidak mau langsung kembali ke rumah
setiba di stasiun Lempuyangan sekaligus menunjukkan bahwa Ki Ageng sudah
tidak terikat dengan kebendaan dan beliau tidak mau direpotkan dan
dibuat sedih akan peristiwa kehilangan dirumahnya.
Kritik untuk Seorang Ulama
Alkisah seorang ulama bernama Raden Bei Mangunpragola yang tinggal di
Kemetiran dan tekun menjalani ibadah. Sudah menjadi kebiasaan beliau
berjalan kaki menuju masjid untuk beribadah, sekaligus bersilaturahmi
dengan kenalan di sepanjang jalan menuju masjid. Pada suatu hari Jumat
sepulang dari Shalat Jumat Raden Bei berjalan bersama sama jamaah lain
pulang menuju rumah masing masing. Tiba tiba diantara sekian banyak
orang tersebut menyeruak dan menerobos rombongan dan dia adalah si
gembel Ki Ageng Purba . Dihadapan Raden Bei Mangunpragola Ki Ageng
Prawira Purba melepas gamparan (alas kaki) sambil berkata"dhewe dhewe
anggone, dhewe dhewe anggone, dhewe dhewe anggone"(Masing masing
pemakaiannya). Banyak orang menghindar dan menjauh karena segan, akan
tetapi Raden Bei tidak sempat menghindar, dan sepertinya justru
dirinyalah (Raden Bei Mangunpragola) yang menjadi tujuan perbuatan Ki
Ageng tersebut.
Raden Bei merenungkan maksud perbuatan Ki Ageng tersebut, dhewe dhewe
anggone, sedangkan dua buah gamparan kanan dan kiri adalah dua barang
yang serpa tadi tidak sama, Akan tetapi selalu dipakai bersama sama.
Mungkin dimaksudkan dua hal yang lain pemakaiannya tetapi sebenarnya
yang itu juga. Kemudian dihubungkan pula dengan trejadinya perisiwa
disaat pukang Jumatan, pasti hal tersebut ada hubungannya dengan
pengamalan iman.
Setelah lama merenungkan Raden Bei mengakui bahwa memang tepat isarat Ki
Ageng bahwa walaupun dirinya (Raden Bei) merupakan orang yang rajin
menjalankan ibadah, akan tetapi caranya masih terrbatas dalam shalat
lima waktu. Adapun amal perbuatannya masih belum sesuai dengan
keimanannya. Mungkin isarat tersebut merupakan anjuran atau kritik
kepada Raden Bei dalam menunaikan ibadah. Juga sisi kiri dan kanan
gamparan adalah bentuk berbeda akan tetapi memiliki fungsi sama, bahwa
dalam tataran tertentu agama sebenarnya mengajarkan hal yang sama yaitu
kebenaran dan kebaikan.
Semenjak saat itu Raden Bei melakukan perenungan mendalam terhadap ilmu
agama, sehingga akhirnya dapat mencapai ilmu hakekat dan disertai
pengamalan dalam kehidupan sehingga hidupnya berimbang dan harmonis
dalam dalam ibadah maupun dalam pergaulan. Kesimpulan isarat Ki Ageng
tersebut adalah bagaimana cara agar dalam menunaikan ibadah jangan
terbatas tata lahir saja, akan tetapi harus mendalam dalam sanubari
sehingga dapat terpancar pada perbuatan serta sikap dalam perbuatan.
repost kaskus TS "mdiwse"
No comments:
Post a Comment