Saturday, May 9, 2015

Kisah Ndoro Purba Cucu HB VI part 14

Lari lari mengelilingi mobil berjalan

Tingkah laku Ki Ageng sukar diduga oleh siapa saja. Kalau sedang diam nampak begitu angker berwibawa, dan kalau sudah seperti itu tidak akan ada yang dapat membuatnya berbicara. Apabila harus berbicarapun maka kata kata yang keluar adalah kata kata yang singkat tepat dan berwibawa. Tetapi terkadang juga sikap beliau yang angker tersebut secara tiba tiba dapat berubah menjadi lucu kekanak kanakan sehingga membuat orang lain hilang rasa takutnya.

Pada suatu hari terlihat sebuah mobil melaju dari keraton menuju ke utara, nampak mobil tersebut dikemudikan seorang pribumi dengan mengenakan blangkon dan baju warna putih dan duduk di kursi belakang seorang Belanda. Tiba tiba dari arah Kantor Pos terlihat seorang Gembel berlari mengejar mobil tersebut, sekilas pemandangan terlihat lucu (jaman dulu mobil masih jarang, dan terkadang anak anak berlarian mengejar mobil karena jarang melihat). Akan tetapi anehnya mobil yang melaju tersebut dapat dikejar oleh si gembel, bahkan sambil mobil berjalan si gembel berlari mengikuti sambil mengelilingi mobil tersebut. Hal ini membuat sopir menjadi bingung dalam mengendalikan mobil sehingga terpontang panting dalam mengemudikannya. Kejadian tersebut hanya berlangsung singkat, akan tetapi sopir yang masih kacau pikirannya mengemudi dengan pontang panting sambil gugup hingga akhirnya mobil tersebut baru bisa berhenti setelah menabrak sebuah rumah di depan bioskop Indra (sekitar utara Mirota Batik depan Pasar Beringharjo). Kecelakaan tersebut merenggut korban jiwa si orang Belanda, sedangkan si sopir hanya luka ringan, adapun mobil rusak.
Peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1920an, dan banyak yang menafsirkan bahwa kejadian tersebut merupakan firasat atau perlambang yaitu:

1. Mobil meninggalkan keraton dapat diartikan Belanda akan meninggalkan kekuasaan (keraton)
2. Alun alun melambangkan pusat segala kegiatan (artinya yang ditinggalkan Belanda bukan cuma kekuasaan,tetapi juga meliputi semua pengaruhnya)
3. Mobil dipermainkan seperti main kucing kucingan diartikan perang gerilya yang seperti kucing kucingan akan terjadi melawan Belanda.
4. Mobil dilepas dan menabrak rumah menggambarkan kekalahan Belanda.


Rumah Ki Ageng Kebobolan Pencuri

Walau seorang arif bijaksana dapat tahu sesuatu yang akan terjadi, akan tetapi sebagai manusia tetap tidak lepas dari garis takdir dan ketentuan Tuhan. Semua itu untuk menunjukkan bahwa manusia sejatinya hanyalah mahluk lemah yang tidak berkuasa atas apapun. Alkisah seorang laki laki bernama Atmo, sering dipanggil Atmo rembes (e untuk edan) rembes berarti mata yang kotor dan sering ada tahi mata. Atmo rembes tinggal di desa Tegalgendu, dia sering mendapat kepercayaan untuk menunggu rumah Ki Ageng di jl.Tukangan terkadang untuk beberapa hari.

Suatu hari Ki Ageng sekeluarga beserta Nyi Kasihan dan Surip hendak pergi ke Demak menengok saudaranya yang menjadi istri Bupati Demak. Selain kunjungan keluarga juga ada rencana ziarah ke makam Sunan Kalijaga di Kadilangu.

Sebagai tanda kasih RAA Harya Hadiningrat yang isteri Bupati tersebut memberi uang sebesar f 400,- kepada adiknya Raden Bekel Prawira Purba. Sedang Nyi Kasihan mendapat hadiah beberapa lembar kain batik. Mereka juga dihantarkan mengunjungi makam Sunan Kalijaga di Kadilangu, dan setelah kunjungan selesai maka sekeluarga kembali melanjutkan perjalanan dengan naik KA ke Solo. Sepanjang perjalanan KA seperti biasa Ki Ageng terdiam dengan mata terpejam seperti bermeditasi, adapun istri dan anaknya asyik dengan kesibukan masing masing. Tiba tiba Ki Ageng berbicara memecah kesibukan masing masing, beliau berkata"mangke arta kula caosaken" (nanti uang saya serahkan). Setelah itu beliau kembali terdiam dan masing masing kembali ke kesibukan masing masing. Sesampai di stasiun Gundih, Ki Ageng mengeluarkan uang dan menyerahkan ke Nyi Kasihan, dan Nyi Kasihan juga menerima dengan wajar. Sore hari mereka sampai di Yogyakarta dan turun di Stasiun Lempuyangan, Ki Ageng berkata "mangga kula atur kundur rumiyin" (silahkan pulang duluan) maka Surip dan Nyi Kasihan pulang dengan naik andong.

Sesampai di rumah ternyata atmo yang disuruh menunggu rumah tidak kelihatan batang hidungnya, dan seisi rumah terrkuras habis, rupanya atmo telah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan. Sebagai seorang istri orang linuwih Nyai Kasihan menerima dengan tabah akan ujian ini. Bahkan Nyi Kasihan beranggapan ini mungkin peringatan baginya agar tidak terlalu memikirkan harta duniawi, walaupun sebenarnya bila Ki Ageng ingin mencari harta dunia maka rumah tersebut tentu tidak akan muat menampung harta yang dapat diperoleh. Akan tetapi justru Ki Ageng yang sudah lepas dari duniawi tidak banyak menyimpan harta dirumah.

Menurut Nyai Kasihan sebenarnya Ki Ageng sudah sedikit menyinggung dengan menyatakan akan menyerahkan semua uang yang didapat dari Demak, akan tetapi Nyi Kasihan kurang tanggap akan hal tersebut. Ditambah dengan keputusan Ki Ageng yang tidak mau langsung kembali ke rumah setiba di stasiun Lempuyangan sekaligus menunjukkan bahwa Ki Ageng sudah tidak terikat dengan kebendaan dan beliau tidak mau direpotkan dan dibuat sedih akan peristiwa kehilangan dirumahnya.

Kritik untuk Seorang Ulama
Alkisah seorang ulama bernama Raden Bei Mangunpragola yang tinggal di Kemetiran dan tekun menjalani ibadah. Sudah menjadi kebiasaan beliau berjalan kaki menuju masjid untuk beribadah, sekaligus bersilaturahmi dengan kenalan di sepanjang jalan menuju masjid. Pada suatu hari Jumat sepulang dari Shalat Jumat Raden Bei berjalan bersama sama jamaah lain pulang menuju rumah masing masing. Tiba tiba diantara sekian banyak orang tersebut menyeruak dan menerobos rombongan dan dia adalah si gembel Ki Ageng Purba . Dihadapan Raden Bei Mangunpragola Ki Ageng Prawira Purba melepas gamparan (alas kaki) sambil berkata"dhewe dhewe anggone, dhewe dhewe anggone, dhewe dhewe anggone"(Masing masing pemakaiannya). Banyak orang menghindar dan menjauh karena segan, akan tetapi Raden Bei tidak sempat menghindar, dan sepertinya justru dirinyalah (Raden Bei Mangunpragola) yang menjadi tujuan perbuatan Ki Ageng tersebut.

Raden Bei merenungkan maksud perbuatan Ki Ageng tersebut, dhewe dhewe anggone, sedangkan dua buah gamparan kanan dan kiri adalah dua barang yang serpa tadi tidak sama, Akan tetapi selalu dipakai bersama sama. Mungkin dimaksudkan dua hal yang lain pemakaiannya tetapi sebenarnya yang itu juga. Kemudian dihubungkan pula dengan trejadinya perisiwa disaat pukang Jumatan, pasti hal tersebut ada hubungannya dengan pengamalan iman.

Setelah lama merenungkan Raden Bei mengakui bahwa memang tepat isarat Ki Ageng bahwa walaupun dirinya (Raden Bei) merupakan orang yang rajin menjalankan ibadah, akan tetapi caranya masih terrbatas dalam shalat lima waktu. Adapun amal perbuatannya masih belum sesuai dengan keimanannya. Mungkin isarat tersebut merupakan anjuran atau kritik kepada Raden Bei dalam menunaikan ibadah. Juga sisi kiri dan kanan gamparan adalah bentuk berbeda akan tetapi memiliki fungsi sama, bahwa dalam tataran tertentu agama sebenarnya mengajarkan hal yang sama yaitu kebenaran dan kebaikan.

Semenjak saat itu Raden Bei melakukan perenungan mendalam terhadap ilmu agama, sehingga akhirnya dapat mencapai ilmu hakekat dan disertai pengamalan dalam kehidupan sehingga hidupnya berimbang dan harmonis dalam dalam ibadah maupun dalam pergaulan. Kesimpulan isarat Ki Ageng tersebut adalah bagaimana cara agar dalam menunaikan ibadah jangan terbatas tata lahir saja, akan tetapi harus mendalam dalam sanubari sehingga dapat terpancar pada perbuatan serta sikap dalam perbuatan.

repost kaskus TS "mdiwse" 

No comments:

Post a Comment