Timbul Ilmu untuk Orang Lain
Nyonya Tan Seng Kang adalah seorang pedagang emas permata dan tinggal di
Klaten, dia biasa berdagang keliling antar kota diantaranya yaitu Solo,
Yogya, Semarang, Cirebon, Batavia, dll. Pada suatu hari perjalanannya
ke Batavia mengalami musaibah, tepatnya saat sampai di Cirebon dank
arena kelengahannya maka barang dagangannya telah dicopet orang.
Kerugian yang di derita cukup besar karena barang yang hilang tersebut
adalah satu cepuk berisi permata dagangan.
Karena bingung dan susahnya, maka dia melaporkan kejadian tersebut ke
Hooft Buro di Cirebon. Setelah mendapat tanda lapor Ny Tan pulang sambil
menunggu hasil pelacakan kepolisian Cirebon. Setelah sekian lama
menunggu ternyata belum ada perkembangan dari kepolisian, maka Ny Tan
mulai mencari dengan cara spiritual. Insiden antara RB Prawira Purba
dengan pedagang keliling Cina di Klaten juga terdengar oleh NY Tan, maka
dia berusaha mencari RB Prawira Purba untuk meminta pertolongan dan
solusi atas kehilangan barang tersebut. Datanglah NY.Tan ke rumah RB
Prawira Purba di daerah Tukangan dan, RB Prawira Purba sendiri
menyampaikan bahwa beliau merasa sebagai manusia biasa sangat terbatas
kemampuannya dan menyarankan agar NY Tan meminta langsung kepadaTuhan.
Sebagai orang yang berpengalaman, Ny Tan Seng Kang dapat menangkap makna
tersebut maka dilanjutkannya permintaannya kepada tuan rumah petunjuk
cara bagaimankah usahanya meminta kepada Tuhan agar maksudnya
terlaksana.
Oleh RB Prawira Purba NY.Tan dianjurkan untuk teteki (laku spiritual) di
sebuah bukit di sebelah barat Kota Semarang guna mensucikan diri
mendekatkan jiwanya kepada Tuhan agar kata batinnya mendapat berkah dari
Tuhan. Semuanya tergantung orang yang menjalankan laku tersebut.
Semakin besar semangat dan kegigihan dalam memohon semakin besar pula
harapannya dapat terkabul. Maka Ny. Tan Seng Kang menjalankan perintah
RB Prawira Purba tersebut, dan melakukan teteki di sebuah bukit sebelah
selatan kali Banteng Semarang. Di atas bukit tersebut kebetulan terdapat
beberapa makam kuno yang tidak terurus. Kepada anak dan keluarganya
Ny.Tan berpesan bahwa untuk sementara dia mengundurkan diri dari
kesibukan perdagangan, menempuh jalan teteki mencari Banyu Bening (Air
bening) di atas bukit Kali Banteng Semarang. Setelah beberapa minggu
menjalankan laku spiritual, keluarga Ny.Tan menyusul ke Kali Banteng
dengan membawa berita gembira berupa surat pemberitahuan dari Hooft Buro
di Cirebon yang isinya menyatakan bahwa pencopet barang Ny.Tan telah
tertangkap dan Ny. Tan diminta untuk datang ke Cirebon mengenali
barang-barangnya yang telah hilang.
Sesampainya di Hooft Buro Cirebon Ny Tan diminta mengenali
barang-barangnya, dan ternyata perhiasan tersebut relative masih utuh
dan baru sebagian kecil yang dijual. Sehingga kerugian yang dialami oleh
Ny.Tan tidak terlalu besar. Sebagai rasa syukurnya, Ny.Tan mengunjungi
RB Prawira Purba dan sejak saat itu Ny.Tan semakin mengutamakan
mendalami ilmu spiritual daripada berdagang dan dikemudian hari di
Klaten dikenal Ny.Tan Seng Kang dengan ilmu spiritualnya.
Adapun terhadap bukit sebelah selatan Kali Banteng Semarang tempat
Ny.Tan menyepi dan berhasil, beliau membangun kembali makam tersebut.
Dan setelah melakukan penelusuran lebih jauh dan mendalam ternyata pada
bukit yang sebelah barat letaknya agak tinggi terdapat tiga makam yaitu
Sunan Kuning, Sunan Ambarawa, dan Sunan Kalijogo. Di sebelah timur yang
tempatnya agak rendah terdapat tiga makam yaitu makam kyai Jimat, makam
Kyai Sekabat, makam Kyai Mojopahit. Sehingga kini makam tersebut dikenal
dengan nama makam Sunan Kuning. Sunan Kuning disini bukan lokalisasi
yang terletak di daerah Kali banteng, Sunan Kuning disini konon
berkaitan erat dengan Mas Garendi dan pemberontakan Cina di Kartasura.
repost kaskus TS "mdiwse"
No comments:
Post a Comment