Perkembangan Politik 1880-an
Pada waktu itu terjadi dualisme di Mataram karena perbedaan politik dan
kepentingan, maka terjadi perebutan pengaruh. Patih pengemban Pangeran
Pati berhasil menyingkirkan putra mahkota. Tahun 1883 Gusti Pangeran
Haryo Muhammad Surenglogo tertangkap di Balerante dan diasingkan oleh
Belanda. Rencananya putra mahkota ini akan dibuang dari Batavia ke
Ceylon. Akan tetapi karena Gunung Krakatau meletus, maka kapal yang
membawa beliau tidak dapat melewati Selat Sunda dan terbawa arus kearah
timur. Akhirnya Belanda merubah pengasingan beliau yang sedianya ke
Ceylon menjadi ke Manado. Para Bangsawan pendukung beliau juga banyak
mengalami tekanan dan pembuangan. Seorang diantaranya adalah Gusti
Pangeran Haryo Suryo Mentaram yang mengalami pembuangan ke Pulau Timor.
GPH Suryo Mentaram dengan berat hati menyerahkan putra beliau yang
bernama Raden Mas Kusrin kepada saudaranya GPH Surya Putra dan
meninggalkan sang anak ke Timor. RM Kusrin lahir pada hari Rabu Legi mempunyai watak dasar yang kaku dan
pendiam, beliau dibesarkan dan dirawat oleh sang paman (GPH Surya Putra)
tidak beda dengan anaknya sendiri. Semenjak berpisah dengan orangtuanya
RM Kusrin tumbuh menjadi seorang anak yang pendiam dan pemurung.
Menyaksikan orangtuanya yang harus diasingkan demi membela keyakinan dan
kebenaran membuat RM Kusrin lebih banyak menyendiri dan menyepi dan
bertafakur.
Remaja
RM Kusrin tumbuh menjadi remaja yang gemar melakukan laku prihatin, dia
lebih suka mengadukan permasalahan hidunya kepada Tuhan. Setelah cukup
umur, beliau dibawa sang paman GPH Surya Putra menghadap Sri Sultan
untuk memohon pekerjaan, dan oleh Sri SultanRM Kusrin diterima dan
diberi jabatan sebagai Bekel Punakawan dengan gelar Raden Bekel Prawira
Purba.
Setelah berumur 20 tahun RB Prawira Purba menikah dengan seorang gadis
desa. Gadis desa tersebut bernama Jiwaningsih puteri Pak Jiwa dan
tinggal diluar beteng keraton (luar beteng pada saat itu sekaligus
menunjukkan strata sosial sebagai rakyat jelata). Pada saat menerima
lamaran RB Prawira Purba, Jiwaningsih diperintahkan ayahnya untuk teteki
(laku prihatin) sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan karena mendapatkan
pasangan dari kalangan ningrat. Upaya sesuci tersebut sebagai persiapan
untuk menikah dan menjalani hidup baru agar Tuhan memberikan perkenan
dan keselamatan.
Setahun setelah menikah dengan Jiwaningsih, RB Prawira Purba dikaruniai
anak bernama Raden Ayu (RA) Sukiyi. Kehadiran RA Sukiyi perlahan
membasuh kepahitan hidup yang dialami RB Prawira Purba, sedikit demi
sedikit kelucuan seorang anak mulai menjadi penghibur dan sumber
kebahagiaan beliau. Akan tetapi memang takdir Tuhan berjalan lain, pada
saat RA Sukiyi berumur 5 tahun mengalami sakit dan berpulang ke
Rahmatullah. Kesedihan akibat ditinggal puteri tersayang juga menambah
derita dan sakit yang kemudian dialami RA Jiwaningsih. Setahun sesudah
meninggalnya puteri kesayangan, RB Prawira Purba harus mengalami
kesedihan ditinggal isteri tercinta.
Dalam usia 26 tahun beliau kembali sendiri, hidup tanpa orangtua,
ditinggal mati anak dan isteri, merupakan goncangan dan tekanan bagi RB
Prawira Purba saat itu. Dalam keadaan sendiri akhirnya beliau kembali
menemukan tempat pelarian Abadi, yaitu Tuhan. Setiap hari kehidupan
beliau dijalani dengan tafakur, baik tidur, duduk, berdiri maupun
berjalan. Makan minum terkadang sampai lupa, tidurpun sering dilewatkan.
Yang dilakukan adalah berjalan kaki siang malam dengan berdiam diri,
beliau lakukan sampai jauh kearah utara. Setelah sekian lama
berjalankaki sampailah beliau di makam Sunan Kalijaga di Kadilangu
(daerah sekitar Demak). Beliau menghabiskan waktu di makam Sunan
Kalijaga, yang dilakukan hanya bertafakur terus menerus bahkan tidak
mengunjungi kerabatnya yang menjadi isteri Bupati Demak saat itu.
Setelah beberapa waktu akhirnya beliau kembali berjalan kea rah selatan
terus mengarah kembali kearah Yogyakarta.
Setelah kembali ke Yogyakarta beliau menjadi seorang yang pendiam dan
jarang berkomunikasi dengan siapapun. Kehidupan beliau jalani dengan
lebih banyak berdiam diri. Pada suatu hari di Keraton Yogyakarta sedang
menyusun perhelatan penting dan direncanakan akan hadir tamu-tamu
pejabat Belanda. Beberapa waktu sebelumnya telah diadakan persiapan,
Raden Bekel (RB) Prawira Purba yang memang menjadi Bekel di Keraton
Yogyakarta menjadi petugas yang mengatur Sinoman (Sinoman secara arti
adalah muda-mudi disini berarti sebagai pelayan yang menyajikan
makan/minuman bagi para tamu). Setelah sekian lama menghilang, RB
Prawira Purba kembali dating di Keraton sehingga beliau ditunjuk Sri
Sultan untuk mengatur abdi dalem menyiapkan hidangan serta menyusun meja
kursi di keraton.
RB Prawira Purba yang mendapat perintah Sri Sultan tidak segera
melaksanakan perintah tersebut, akan tetapi justru beliau berdiam diri
bersandar di tiang pendapa keraton sebelah tenggara. Demikian pula
beliau tidak memerintahkan para abdi untuk melaksanakan amanat perintah
Sri Sultan tersebut. Sehingga menjelang acara dimulai ternyata masih
belum siap, maka marahlah sang Raja. Kata beliau kepada RB Bekel Prawira
Purba “Bekel Purba” mana anakbuahmu abdi dalem semua?,hari sudah
demikian sore mengapa belum tampak yang dating bekerja?siapakah yang
menyiapkan ruangan untuk tamu-tamu nanti?.
Maka jawab Bekel Purba “oh iya, maaf Paduka Yang Mulia, sambil kemudian
metheti jari (memetik jari seperti memanggil binatang) maka seketika itu
berjalanlah meja-meja dan kursi-kursi membentuk sendiri susunan
berderet untuk keperluan jamuan. Betapa makin menjadi kemarahan Sri
Sultan, menghadapi kejadian ini, karena berdemonstrasi kesaktian di
hadapan Raja.
Catatan : Sumber lain mengatakan “dengan menahan amarah Sang Raja
mengatakan “”kursi kamu petheti seperti binatang, Kamu memang gila Bekel
Purba”..sejak saat itu beliau menjadi seperti orang yang kurang waras
akibat sabda Sang Raja. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa Bekel
Purba menjadi aneh perilakunya bukan karena Sabda Raja, akan tetapi
karena kesedihan mendalam ditinggal istri dan anak dan karena selalu
bertafakur kepada Tuhan sehingga beliau kurang mempedulikan hubungan
sesama manusia
repost kaskus TS "mdiwse"
No comments:
Post a Comment