Saturday, May 9, 2015

Kisah Ndoro Purba Cucu HB VI part 15

Menemukan makam kuna

Alkisah ada seorang bernama Wanasemita yang tinggal di desa Polaman Sedayu yang setiap hari pergi ke Beringharjo untuk berjualan sayuran maupun hasil bumi lainnya. Pada hari itu dagangan Wanasemita sudah laris terjual dalam waktu yang cukup cepat, sehingga masih agak pagi sudah habis terjual semua dagangannya.

Sambil menunggu beberapa uang pembayaran yang belum dia terima Wanasemita membeli es campur di salah satu kios di Beringharjo. Disaat meminum es tersebut tiba tiba dirinya didorong orang, tentu saja es ditangannya tumpah. Masih belum menyadari apa yang terjadi lagi lagi dia kembali didorong orang bahkan lebih keras sehingga jatuh terguling ditanah. Tanpa ada kesempatan berdiri sudah disusul disiram air pencuci gelas seember penuh. Dengan keadaan terjengkang ditanah ditambah kondisi basah kuyup, spontan emosinya naik dan marah. Tapi demi melihat bahwa pendorongnya adalah Ki Ageng Prawira Purba maka sebisa mungkin ditahannya emosi tersebut.

Pada waktu itu banyak yang meyakini bahwa barangsiapa dipermalukan atau mendapat perlakuan yang kurang tepat dari Ki Ageng justru merupakan firasat bahwa dirinya nanti akan mendapat keberuntungan. Maka Wanasemita pun berdiam diri sambil menahan emosi serta berharap dia akan mendapat keberuntungan.
Kira kira sebulan kemudian Ki Ageng tiba tiba mendatangi tempat tinggal Wanasemita di atas gunung Polaman selatan Sedayu. Disaat tiba dirumah Wanasemita Ki Ageng langsung masuk rumah tanpa permisi atau mengucap apapun dan langsung duduk lesehan diruang depan karena tidak adaperaot rumah. Wanasemita yang mendengar suara orang batuk di kamar depan segera keluar kamar untuk melihat siapa yang batuk tersebut. Tiba tiba terkejutlah wanasemita demi melihat yang hadir adalah Ki Ageng dan sedang duduk di tanah beralaskan getepe. Teringatlah dia bahwa sebulan yang lalu dirinya dipermalukan di pasar Beringharjo, akan tetapi rasa hormat tetap ada didalam hatinya. Maka digelarlah tikar pandan sebagai upaya menghormati tamunya. Akan tetapi Ki Ageng tetap tidak mau dan memaksa duduk di getepe.
Segala hidangan yang disuguhkan juga ditolak, Ki Ageng hanya menerima suguhan minuman saja. Setelah beberapa saat Ki Ageng beranjak keluar rumah dan melihat lihat pekarangan. Wanasemita masih belum memahami kemauan tamunya tersebut, maka dia hanya mengikuti saja. Setelah sekian lama berjalan jalan jauh di sekitar kampung maka Ki Ageng berhenti di sebuah gua sebelah tenggara lereng bukit. Dengan berjalan dan termangu mangu ki Ageng berkata "menika satunggaling makam kina, makam naratapa majapahit" (ini makam kuna, salah satu pertapa majapahit). Gua menika pertapanipun, lan mestinipun mboten namung setunggal makam punika aslinipun gangsal sedayanipun (gua ini adalah tempat pertapaannya dan mestinya bukan cuma satu makam saja akan tetapi ada 5).

Ki Ageng menuruni lereng arah utara dan tidak jauh dari lokasi itu ditunjuk agar wanasemita menggali, Ki Ageng meninggalkan tempat itu dengan pesan suatu saat akan datang lagi membangun makam tersebut. Penggalian pertama oleh wanasemita ditemukan mata air, dari bentuk tepiannya diduga mata air tersebut bikinan manusia. Penggalian demi penggalian dilakukan dan ditemukan tiga mata air. Diperlukan waktu dua minggu untuk menggali, dan setelah selesai maka wanasemita melapor kepada Ki Ageng.
Pada akhir pemugaran maka dilakukan selamatan, pengunjung banyak yang datang bergotongroyong. Banyak pula yang sibuk menyiapkan makanan dan merebus minuman. Tetapi telah berjamjam direbus minuman tetap saja air tidak bisa mendidih, peristiwa tersebut akhirnya mengundang banyak orang yangmelihat dan akhirnya tersiar kabar bahwa air di mata air tersebut adalah air ajaib. Dan Polaman kedatangan banyak tamu untuk melihat mata air tersebut (sendang).
Pada peristiwa pemugaran tersebut terungkaplah bahwa setelah keruntuhan Majapahit, seluruh putera Brawijaya menyebar keseluruh nusantara. Putera yang ke 91 bernama raden Paneti (putera Prembi) menghabiskan sisa hidupnya menetap di Polaman, dan sampai akhir hayatnya dimakamkan di Polaman.

repost kaskus TS "mdiwse" 

No comments:

Post a Comment